Puisi Thomas Budi Santoso; Perjalanan Terakhir




PERJALANAN TERAKHIR


pergilah engkau dari pikiranku, sayang
karena pikiranku telah keruh
airnya berhenti mengalir
dan perahumu yang letih
mulai menepi mendekati dermaga

di terik matahari musim ini

kusisir benua bersamamu
dengan langkah-langkah kecil
sambil kukeringkan airmata
yang menetes dari batinku

kubayangkan diriku yang mengering

sesaat perjalanan dimulai
bagian terbaik hidupku mulai tercabik
dengan luka menganga
sementara kupaksa diriku mengada gelak dan canda
agar kudengar nyaring tawamu yang renyah

kurakit kembali perjalanan masa lalu

saat embun menetes di bibirku
dan angin pagi mencumbu
menghantar bau bunga rumput
yang mengharumi tubuhmu

di terik matahari ini

aku ingin kau pergi dari pikiranku
karena dirimu yang menghimpit sarafku
membuatku berjalan di dunia orang mati

aku lunglai dan sangsai

seperti rumput kemarau panjang
menunggu jatuhnya hujan

2 Februari 2012



Thomas Budi Santoso, lahir di Pati, 19 Nopember 1944. Menulis puisi sejak tahun 60-an. Beberapa puisinya dimuat di antologi puisi Masih Ada Menara, Sajak Kudus–12 Penyair Indonesia, Antologi Puisi Penyair Nusantara: 142 Penyair Menuju Bulan, Antologi Puisi 2 Penyair: Nyanyian Sepasang Daun Waru dan Dunia Bogam Bola; Krueng Aceh, Puisi-Puisi Penyair Jawa Tengah, Akulah Musi, Jilfest-The 2nd Jakarta International Literary Festifal 2011, Bima Membara, Requiem bagi Rocker, Dari Sragen Memandang Indonesia, Sauk Seloko, Puisi Menolak Korupsi, Dari Bumi yang Sama, Pengantin Langit. Media cetak seperti  Horison, Sinergi; Republika, dan lain-lain Penasehat Keluarga Penulis Kudus ini tinggal di Kudus.

1 comments