Gunung dan Almari Bertumpuk Kardus

Jimat Kalimasadha

esai tentang naik gunung



Gunung dan almari memberikan pelajaran bahwa hidup itu hanyalah teknik membagi beban.

Saya bukanlah orang yang punya hobi naik gunung, tapi ketika muda dulu, saya pernah setidaknya enam kali mencapai puncak Gunung Lawu dan tiga kali Merapi.  Matahari terbit adalah kesempatan terindah untuk menghargai segala kemewahan yang matahari bisa berikan kepada kita. Tetapi, bukan itu yang ingin saya bahas.

Ketika saya mendaki Gunung Lawu yang kali keenam, saya mendapatkan pelajaran bahwa beban hidup akan menunjukkan kualitas  dan harga dirimu sebagai individu. Waktu itu saya tidak sendirian. Kami berenam menempuh perjalanan sekitar 8 jam dari Cemoro Kandang. Dalam rombongan tersebut, ikut serta dua orang teman cewek. Dalam perjalanan panjang dan jauh di tengah hutan seperti itu, dua orang cewek sebaiknya dikawal oleh 4 orang cowok. Dan, kami memenuhi persyaratan tersebut.

Pada separoh kedua perjalanan pendakian, situasi mulai berubah. Kami mulai sedikit berbicara dan tertawa. Nafas mulai terengah-engah, kaki mulai berat digerakkan, oksigen sepertinya susah menjangkau paru-paru. Kaki kram. Salah satu teman cewek mengalami mual dan muntah-muntah. Kami memerlukan air minum. Tapi, di mana air minumnya?

“Siapa yang membawa air minum?” tanya saya panik.

Kami mencari teman yang bertugas membawa botol air minum. Oh. Ternyata, teman tersebut sudah berada jauh di depan sana. Dia berlari seorang diri dan tidak peduli pada teman-temannya yang tertinggal di belakang. Ia tidak memikirkan teman-temannya sedang dalam kondisi emergency. Ia seperti ingin meneguhkan dirinya sendiri sebagai pendaki yang terkuat; kuat berlari melampaui teman-temannya, meskipun membawa beban berat. Ia ingin mendapatkan pengakuan dari yang lain.

Saya mendapat pelajaran berharga pertama: jika kamu ingin mengetahui karakter asli temanmu (atau pacarmu), ajaklah ia naik gunung. Itulah kualitas diri temanmu atau pacarmu itu.

Ketika saya mendaki Gunung Merapi yang kali ketiga, saya mendapatkan pelajaran ini. Beban hidup akan benar-benar memberati hidupmu, jika tidak kamu share. Waktu itu, saya benar-benar sudah tidak kuat lagi membawa beban apa pun setelah mencapai baru sepertiga perjalanan pendakian. Jalur pendakian Merapi sangat tegak, sempit, dan licin. Tas besar yang saya gendong, serasa menahan kaki untuk melangkah ke atas. Beratnya beban rasanya menambah  gravitasi dan menyeret tubuh untuk mundur dan turun. Dingin dan gigil, membuat tangan dan punggung membeku. Saya benar-benar bingung. Haruskah saya buang bekal ini?

“Tidak. Bagilah bebanmu menjadi beberapa bagian. Sembunyikan di beberapa tempat dan berilah tanda tempat-tempat tersebut,” saran teman saya. “Saat turun nanti, beban itu bisa kita manfaatkan sebagai bekal pulang.”

Begitulah. Kita tidak bisa berjalan dengan beban yang melebihi batas kemampuan kita. Kita hanya membutuhkan cara agar beban tersebut bisa berkurang. Setelah itu, kita bisa melanjutkan perjalanan untuk sampai di tempat tujuan.

***

Setelah berumah tangga, saya tidak pernah muncak dengan cara yang berdarah-darah seperti saat muda. Hidup saya belakangan ini rasanya tak mengenal lagi gunung tinggi. Tak ada puncak, lembah atau jurang. Seorang teman justru bilang, “Hidupmu terlalu rata.” Hahaha… Anda menyangka hidup saya sudah mapan. Iya, benar. Hidup saya memang mapan, tetapi mapan dalam ketidakmapanan.

Mendaki gunung, barangkali, sudah menjadi masa lalu. Kalau sekarang saya rindu gunung, saya kemudian melihat almari pakaian yang di atasnya bertumpuk kardus. Kedengarannya mungkin lucu atau naïf, tapi bukankah menyimpan kardus di atas almari adalah upaya mempertahankan harkat sebuah sejarah.

Sejarah apa?

Sejarah pencapaian. Kardus-kardus itu sebagai bukti bahwa kita sudah bisa membeli TV, magic jar, lampu emergency, blender, lampu LED bergaransi, dan lain-lain.  Kardus-kardus syukuran khitanan atau pernikahan juga bertumpuk di atas almari adalah  arsip paling akurat tentang hubungan baik kita dengan saudara, tetangga, dan sahabat. Kita pernah diundang oleh mereka. Itulah harkat kardus di atas almari dipandang dari sisi intrinsik  positifnya.

Kalau kita tidak sanggup membuang kardus atau membuang benda-benda yang kelihatannya tidak berharga itu, apakah kita termasuk penderita penyakit hoarding disorder? Penderita hoarding disorder, konon, memiliki kesulitan untuk berpisah dengan koleksi barang mereka, walaupun secara umum barang yang mereka koleksi tidak memiliki faedah.

 

Rumah saya yang tidak terlalu besar itu, sebenarnya tidak ada barang yang berharga di dalamnya. Barang-barang yang saya miliki sama tuanya dengan usia keluarga saya. Tidak ada yang terlampau berat dalam hidup saya. Bukannya saya tidak mempunyai beban berat, melainkan saya sudah terbiasa menghadapi beratnya beban hidup.

Jika kita rasakan dengan teliti, salah satu beban hidup yang terberat sebenarnya adalah membuang nilai intrinsik negatif kardus-kardus itu. Kardus-kardus yang menyimpan kenangan buruk, memori pahit, perasaan bersalah, kekecewaan masa lalu dan kemudian membebani punggung kita.

Sulitnya berpisah dengan kardus-kardus di atas almari semata-mata bukan masalah harga fisiknya. Padahal, kalau saja saya merelakan kardus-kardus tersebut keluar dari rumah, pasti rumah saya akan terasa lebih lega dan lapang. Andai saja saya rajin membersihkan  temperorary file, cache, history, unused file, dan recycle bin di dalam laptop akan membuat longgar ruang hard disk dan system akan berlari dengan lebih ringan. Tapi saya enggan melakukannya.

 

Begitu juga, seberapa besarkah dari diri kita yang benar-benar merelakan beban emosional masa lalu itu bisa keluar dari kehidupan kita. Ia seperti kardus di atas almari yang tak pernah terpakai, tapi selalu sayang untuk kita buang. Kardus-kardus di atas almari itu adalah representasi  dari  goresan (luka) yang memiliki kekuatan aneh untuk mengingatkan kita bahwa masa lalu memang nyata. Seperti kesalahan masa lalu yang tak termaafkan, selalu membebani punggung kita. Seperti rasa benci, penolakan, atau peristiwa traumatis yang membebani punggung kita dan kita gendong ke mana-mana. Selalu enggan kita lepas.

 

***

 

Steven Crain, pengarang novel The Haunting of Hill House pernah berkata, “Saya telah melihat banyak hantu. Tidak hanya cara berpikir anda. Hantu bisa menjadi banyak hal. Memori, lamunan, rahasia, kesedihan, kemarahan, atau rasa bersalah. Tapi, dalam pengalaman saya, seringkali hantu  hanyalah apa yang ingin kita lihat. Seringkali, hantu adalah keinginan.”

 

Adakah di antara kita yang ingin mati dan menjadi hantu? Tentu saja tidak ada. Tetapi, kita semua memiliki potensi untuk menjadi hantu. Mengerikan, bukan?

 

Nah, tahukah kalian, terbuat dari apakah hantu itu? Kita jarang  menyadari bahwa hantu sebenarnya adalah emosi kita yang sedang marah; yang menjalani kutukan sampai kita berhasil menyelesaikan amarah itu. Sebelum kita memaafkan dan berkompromomi dengan beban negatif masa lalu, selamanya kita tidak akan menemukan jalan damai. Selama itu pula, kita akan menjadi hantu. 

 

 




Jimat Kalimasadharedaktur tajug.net, bisa diakses di bit.ly/bu-buku

0 comments