Menjadi Penulis Profesional

Mukti Sutarman Espe


Esai Mukti Sutarman Espe


Kegiatan menulis atau mengarang tentu tidak asing bagi kita. Pasalnya, sejak duduk di bangku sekolah dasar hingga perguruan tinggi, menulis atau mengarangapa punsecara teori sudah kita pelajari bahkan sudah kita praktikkan. Pertanyaannya, mengapa dalam kenyataan masih banyak orang yang gagap menulis? Mengapa banyak yang tidak tertarik menekuninya dan memilihnya sebagai  sebuah profesi? Sebagai sebuah ladang mata pencaharian?

Tidak bisa dipungkiri, masyarakat Indonesia relatif lebih suka berbicara daripada menulis. Akibatnya banyak yang mesti berpikir panjang  bila ingin menjadikan menulis sebagai sebuah profesi.

Selain karena budaya suka berbicara,  penyebab lainnya, imbalan yang tidak atau belum memadai, cibiran sosial yang menyudutkan, keterbatasan pengetahuan penulis prihal media penampung, dsb. Itulah, mengapa menulis hanya ditempatkan sekadar sebagai kegiatan selingan, hobi atau kelangenan.

Memilih menulis sebagai profesi memang membutuhkan keberanian ekstra. Untuk menjadi penulis profesional banyak tangga dakian dan jalan berkelok liku yang harus dilalui. Wilson Nadeak, seorang penulis yang tulisannya pernah dimuat di hampir semua surat kabar yang terbit di Indonesia mengatakan, untuk menjadi penulis profesional diperlukan kemauan yang tangguh dan tahan uji. Motivasi kuat, dedikasi tinggi serta stamina yang panjang.

Berdasarkan pengamatan empieris, kebanyakan penulis yang mengalami kegagalan memang lebih dikarenakan faktor yang disebutkan oleh dosen Universitas Padjadjaran itu. Rasa malas, cepat menyerah, penyakit instanisme, keinginan sesegera mungkin menikmati hasil tanpa melalui proses panjang, meyebabkan tidak sedikit orang yang punya hasrat jadi penulis profesional layu sebelum berkembang.

Akan tetapi, man jadda wa jadda, barang siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan mendapatkan hasil, begitu ungkapan Arab yang populer di kalangan para santri. Di mana ada kemauan di situ ada jalan, demikian pepatah terkenal yang hidup di masyarakat bangsa ini. Dua-duanya menyarankan, bila seseorang mau berusaha dengan sungguh-sungguh, mau bertekun diri dengan kerja tanpa lelah, pintu keberhasilan terniscayakan terbuka lebar. Kalimat bijak mengatakan, tak ada hasil yang mengkhianati proses.

Jadi, untuk menjadi penulis professional, kata kuncinya adalah komitmen diri, kemauan kuat, dan kerja keras serta sabar meniti proses. Pasangan ganda bulutangkis The Minnions, Marcus Fernaldi Gideon dan Kevin Sanjaya sukamulyo, mustahil dapat memenangi berbagai turnamen super series dan berjaya menempati peringkat satu dunia ganda putra, jika mereka tidak memiliki kemauan kuat dan   mau bekerja  ektra keras. Pramoedya Ananta Toer (alm) tidak mungkin bisa jadi penulis masyhur bila dia tidak punya komitmen, kemauan dan disiplin yang tinggi. Masih berderet kesuksesan-kesuksesan lain yang bisa ditunjuk sebagai bukti konkret hasil manis dari kemauan dan kerja keras itu.

Sekali lagi, kuncinya adalah kemauan kuat dan kerja keras. Kalau sudah berhasil menjadikan kemauan kuat dan kerja keras itu sebagai kebutuhan hidup, tinggal ke mana pilihan dijatuhkan, menjadi penulis profesional jenis tulisan fiksi atau nonfiksi?

Bagaimana dengan bakat menulis? Banyak peniliti dan praktisi  kepenulisan berpendapat, bakat hanya berperan 5% pada keberhasilan. Selebihnya adalah kemauan, ketekunan, dan kerja keras.

 

Jenis Tulisan atau Karangan

Sebelum menentukan tulisan apa yang mau ditekuni, penting kiranya mengenal secara baik jenis-jenis tulisan karangan. Ditilik dari ragam bahasa dan isinya, tulisan atau karangan dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu fiksi dan nonfiksi. Fiksi adalah karangan yang di dalamnya terkadung unsur khayal atau imajinasi pengarang. Peristiwa atau kejadian yang ada dalam karangan bisa berdasarkan persistiwa nyata atau hasil rekaan pengarang saja. Contoh, cerpen, novelet, novel, roman, puisi, dll.

Adapun karangan nonfiksi adalah karangan yang bersumber pada data dan fakta. Di dalamnya sama sekali tidak terdapat unsur imajinasi atau khayal pengarang. Contoh, berita, laporan, makalah, esai, skripsi, dll.

Dengan mengenal secara baik jenis tulisan beserta ciri dan batasannya, dimungkinkan tidak akan terjadi kesalahan dalam menentukan pilihan. Pilihan akan dijatuhkan sesuai dengan minat, pengetahuan, dan kemampuan. Seseorang yang berminat, berpengetahuan, dan berkemampuan menulis karangan fiksi akan memilih karangan jenis fiksi. Sebaliknya, demikian yang memiliki minat, pengetahuan, dan kemampuan menulis karangan nonfiksi.

Apakah tidak boleh menulis keduanya, fiksi dan nonfiksi? Tidak ada larangan. Namun pada hemat saya, spesialisasi diniscayakan lebih menghasilkan tulisan yang berbobot dan berkualitas. Ibarat warung makan, warung yang spesial menjual soto akan lebih konsisten dalam menjaga kualitas dan rasa khas sotonya dibanding warung yang menjual soto, bakso, bakmi, ayam goreng, dan jenis masakan lainnya. Dalam hal ini perlu diingat, tulisan yang menarik adalah tulisan yang berciri dan bergaya khas. Cara penulis mengungkapkan gagasan, sudut pandang yang dipilih, gaya bahasa yang digunakan, merupakan unsur pemikat sebuah tulisan.

 

Nilai Jual Tulisan Fiksi dan Nonfiksi

Ditinjau dari segi ekonomi, tulisan apa yang lebih menghasilkan? Tulisan jenis fiksi atau nonfiksi? Guna mendapatkan jawaban yang sahih perlu dilakukan sebuah penelitian akademis. Namun terlepas dari itu, terdapat fakta dan cerita faktual yang menarik di kalangan penulis. Fakta dan cerita itu  bisa dicermati dalam paparan dua ilustrasi berikut

Ilustrasi pertama. Hampir semua surat kabar yang terbit di hari Minggu memuat puisi dan atau cerita pendek. Dari minggu ke minggu terlihat tidak habis putus para penulisyang kawakan atau debutanberebut menyiarkan karya puisi dan cerita pendeknya di rubrik sastra yang ada di situ. Tetapi, perlu diketahui, sekarang ini  tidak semua media cetak yang memuat puisi atau cerita pendek memberi honorarium kepada penulisnya. Sepengetahuan saya, hanya koran besar nasional, seperti Kompas, Jawa Pos, Media Indonesia, Republika, Koran Tempo, yang masih memberi imbalan. Sedangkan surat kabar kecil yang terbit di daerah sudah banyak yang tidak memberi honorarium yang menjadi hak sah penulis.

Lalu bagaimana dengan buku fiksi? Seorang teman baik, yang novel dan cerpennya diterbitkan sebuah penerbit mayor terkenal, rajin mengirim whatsapp kepada semua kawan serta relasi. Isinya, minta kawan-kawan serta relasi  “membantu” membeli buku kumpulan cerpennya yang baru terbit. 

Ilustrasi kedua. Seorang guru bahasa Indonesia  SMP di Kendal, yang menekuni dunia tulis menulis, setiap minggu mampu menambah pundi-pundi rekeningnya  lebih kurang tiga juta rupiah per bulan. Uang sejumlah itu diterima sebagai imbalan tulisan esai politik karyanya yang tayang di media online UC News.

Itu baru honor dari satu media online. Bisa dibayangkan, berapa besaran honor yang diterima jika ia mau mengirim tulisannya di media online lainnya atau kalau ia mampu menembus media cetak besar  yang notabene hampir setiap hari, minus hari Minggu, memuat tulisan jenis esai. Untuk diketahui, banyak media arus utama utama atau online yang menerima kiriman beraneka esai; politik, gaya hidup, olahraga, budaya, seni, pendidikan, dll.

Dua ilustrasi di atas sengaja disampaikan dengan tujuan agar bisa dijadikan sebagai gambaran kecil dan bahan pertimbangan dalam menentukan pilihan menjadi penulis profesional. Notabene karena keduanya berdasar pada cerita faktual  dengan sampel hanya dua kasus, maka kebenarannya perlu diuji dan didalami lagi.



Tentang Penulis:
Photo
Penyair, mukim di Kudus.

0 comments